Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Wednesday, 14 October 2015

Review Novel: 'ELEGI' Karya Sastra Tingkat Tinggi Penuh Kejutan

Cover depan novel (photo by me)

Sebenernya ini novel udah lama banget gue beli, sekitar 2 atau 3 tahun lalu. Tapi karena waktu itu gue lagi sibuk-sibuknya kuliah (ceilah sombong :p) makanya gue belum tamat bacanya. Dan berhubung sekarang gue lagi jadi pengangguran, makanya gue mencari kesibukan, dan salah satunya adalah membaca novel yang tak kunjung usai gue baca ini haha

Novel ini cukup spesial buat gue pribadi karena penulis novelnya adalah temen gue sendiri. Ini true story. Temen SMA gue, sekelas waktu kelas X (1 SMA), namanya Auliya Millatina Fajwah – yang emang dari zaman SMA setahu gue udah jago banget nulis. Buktinya waktu SMA aja, Aul ini (panggilan akrab gue) sering menjuarai tulis cerpen lah atau kalo enggak artikelnya sering banget dimuat di koran atau majalah.

But, biar agak keren sedikit, gue sebut Aul dengan “nama pena”-nya Millatina ya hehe. Judul novel ini adalah Elegi: Ketika Kesakitan Ditolak Kehadirannya. Beuh, berat banget kan baca judulnya aja? Bahkan gue sendiri gak ngerti apa makna dari kata ‘Elegi’. Akhirnya, gue carilah di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan munculah arti kata ‘Elegi’ seperti di bawah ini

ele·gi /élégi/ n syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita (khususnya pada peristiwa kematian)

Bahkan, setelah gue baca arti kata ‘Elegi’ berdasarkan KBBI pun, gue masih belum ngerti banget apa dari kata ‘Elegi’ sebenarnya haha payah banget emang gue L

Sisi pandang objektif gue menilai kalo novel ini bagus, lebih dari bagus. Millatina mampu menyuguhkan novel dengan padanan kata yang cantik dan sangat intelektual. Meskipun, menurut gue pribadi sih cukup rumit karena bener-bener sastra tingkat tinggi banget deh. Contohnya seperti yang tertuang pada bagian Prolog ini (ini baru bagian prolog loh, masih pembukaan awal)

Tidak selamanya langit membentang dengan panorama biru muda yang indah, terkadang berubah kelabu, seperti ingin melepaskan kesakitan bersama air hujan. Tidak selamanya burung-burung berkicau dengan riang, terkadang hanya diam dan mengepakkan sayap membelah langit bersama ketenangan.

Gimana sedap kan? Kalo menurut lu itu hal biasa, bagi gue itu padanan kata-kata yang sangat indah. Tapi, gue emang perlu mikir dulu bacanya haha efek kebanyakan baca novel-novel teenlit :p Gue bahkan kadang harus membaca satu bagian tertentu berulang-ulang agar memahami maksudnya. Mungkin karena selera sastra gue yang terlalu rendah haha

Ada lagi yang seperti ini…

Pertemuan pertama memang tidak selalu menghadirkan cakrawala keindahan yang sempurna, tidak pula menawarkan dongeng yang indah. Terkadang justru terasa begitu rumit, seakan ingin menolaknya.

Siang diciptakan bukan untuk mengejar malam, namun sore selalu hadir dan menghubungkan keduanya.

Millatina juga banyak menyematkan istilah-istilah mitologi Yunani sebagai pengandaian di dalam novelnya, seperti Dewa Zeus, Dewi Artemis, Dewa Apollo, Dewa Dionisos, Dewi Hera, dsb – yang gue gak ngerti itu siapa. Meskipun di beberapa bagian Millatina menjelaskannya dan di beberapa bagian lainnya tidak.

Langit biru terhampar luas hingga ujung khatulistiwa dengan serat-serat awan tipis. Dedaunan seolah melambai dan menari tertiup angin. Burung-burung gereja berkicau saling menyahut satu sama lain. Dewa Aether membentuk atmosfer sempurna, hingga Dewi Gaia membiarkan bumi dalam poros sempurna.

Terkadang Millatina juga mengutip “petikan-petikan” dari orang terkenal seperti yang tertulis pada bagian ini

Untuk kali pertama ia merasa jatuh cinta, yang kemudian segera berubah menjadi amor platonicus, seperti yang ditemukan dalam naskah Symposium karya Plato, sebuah cinta yang tak tersentuh, bersebelahan namun bukan untuk berdampingan.

Gue mengagumi “kelancaran” Millatina dalam menceritakan setting tempat pada novel ini yang begitu nyata. Di dalam novel Elegi ini, Millatina mengangkat 3 tempat, yaitu Bourgogne (Perancis), Bandung (Indonesia), dan Tokyo (Jepang). Millatina mampu menceritakan setiap detail dari ketiga tempat tersebut seakan-akan ia memang tahu betul ketiga tempat tersebut. Dan gue sebagai pembaca, seakan dibawa masuk bersama ke dalam tiga tempat tersebut. Good job!

Novel ini memiliki 3 tokoh utama yang menjadi peranan penting, yaitu Dylan, Reyka, dan Sara. Dylan McFadden adalah seorang yang membenci anggur, orang tua, dan hidupnya.  Ia memiliki masa lalu yang sulit yang membentuk sikapnya menjadi seperti ini saat ia telah dewasa. Reyka Afabel, merasa dirinya seperti sebuah manekin. Ia pun memiliki masa lalu yang cukup sulit seperti Dylan meskipun dengan kasus yang berbeda. Kedua orang ini sama-sama menyukai seorang wanita cantik yang bernama Sara Visella.

Cerita novel ini sangat apik, konfliknya pas, dan penuh kejutan. Kadang, ketika gue telah menyimpulkan tentang A, kemudian ditentang pada bab berikutnya sehingga kesimpulan gue berubah menjadi B. Dan seteleh gue membaca bab berikutnya, kesimpulan gue berubah lagi menjadi C. Penuh teka-teki memang. Di sini, pembaca dituntut untuk “berpikir” juga ketika membacanya.

Millatina berhasil membuat sebuah novel yang tidak sekedar menceritakan “drama” mengenai perebutan seorang wanita oleh dua orang pria. Dalam novel ini pun tidak hanya bercerita mengenai kisah kasih, tetapi juga bagaimana Dylan mengatasi kebenciannya terhadap orang tuanya. Dan bagaimana Reyka “berdamai” dengan masa lalunya. Dan jika kau ingin tahu bagaimana akhir cerita novel ini, siapa yang akan mendapatkan hatinya Sara, kau harus membaca sendiri novel ini! :D

Ada beberapa bagian quotes yang gue suka dari novel ini, seperti…

“Kau tahu, kadang-kadang dalam hidup ini seseorang tidak diberikan pilihan, ia harus mengikuti suatu jalan yang sebenarnya tidak ingin dilalui, dan kau baru tahu bahwa jalan itu salah ketika kau sudah melaluinya.”

“Kalian tahu, hidup itu tidak sesederhana yang kau bayangkan. Ketika ada kesulitan, Tuhan pasti telah menciptakan kemudahan.” – ucap Bu Rena kepada Sara dan Rion.

Point negative yang gue dapet dari novel yang tebelnya 154 halaman ini adalah terlalu banyaknya narasi yang gak to-the-point (seperti yang udah gue singgung di atas). Memang, itu menunjukkan betapa Millatina memiliki kosa kata yang lebih dari “kaya”. Hanya saja – kembali lagi ke gue sang penggemar novel teenlit – hal itu bikin gue kadang “ngantuk” di tengah jalan. Mungkin jika ditambah dengan lebih banyak dialog atau ilustrasi yang mendukung, hasilnya pasti akan jauh lebih baik lagi.

But, overall gue ngerasa bangga banget punya temen yang udah ngeluarin novel pertamanya dengan cukup baik dan ajaib! J

So, buat lu yang memiliki jiwa sastra tinggi, novel ‘Elegi’ ini gue rekomedasiin buat lu. Atau kalo pun lu selemah gue dalam hal satra, gak ada salahnya buat lu baca novel ini :D

Wednesday, 7 October 2015

Review Novel: Aku Jatuh Cinta pada Dilanmu, Milea!


Mungkin gue termasuk orang yang telat tau tentang novel ini. Berawal dari melihatnya banyaknya temen gue yang ngomogin novel ini sekaligus merekomendasikannya, akhirnya gue pun tertarik untuk membeli buku ini.

Dilan Dia adalah Dilanku Tahun 1990 adalah salah satu novel karya Pidi Baiq (@pidibaiq) biasa orang-orang memanggilnya dengan sebutan “ayah” atau “surayah”. Jujur, sebagai warga Bandung, gue udah gak asing lagi mendengar namanya. Yang gue tau, ayah itu adalah anggota salah satu band bernama The PanasDalam, yang (sebenernya) gue pun gak tau lagunya seperti apa. Hanya saja gue tau salah satu lirik lagunya yang berjudul Dan Bandung, sedikit potongan liriknya seperti ini

“dan Bandung bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi.”

Novel ini menceritakan hal yang kllise sih kalo kata gue, kisah cinta anak SMA si cantik dan si keren. Ah, udah biasa banget kan? Tapi, ayah dengan ciamik mampu membuat novel ini menjadi sangat luar biasa dan mampu menyihir para pembacanya dengan suguhan kata yang bener-bener sederhana tapi ajaib. Aneh kan?

Setting novel ini adalah Kota Bandung di tahun 1990. Bandung yang sangat jauh berbeda dari saat ini. Bandung yang belum pernah gue lihat sebelumnya karena gue belum lahir pada tahun itu. Dan lagi-lagi, ayah mampu menggambarkan keindahan Kota Bandung saat itu dengan sangat baik.

Milea, gadis cantik pindahan dari Jakarta. Anak seorang TNI, ibunya mantan vokalis band. Tentu yang namanya “gadis cantik” pasti banyak laki-laki yang suka, salah satunya adalah Dilan. Pria yang katanya anak “geng motor” ini siapa sangka ternyata menyimpan banyak “keromantisan” dalam memikat hati Milea.

Dari awal perkenalan dengan Milea, Dilan melakukan cara yang tak biasa. Dilan berpura-pura menjadi seorang peramal. Hingga ada di suatu bagian, Dilan datang ke rumah Milea untuk memberikan surat undangan. Kau tau apa isinya? Undangan ke sekolah! Semua nama hari dan tanggal disertai di surat undangan itu, lengkap dengan nama kepala sekolah dan turut mengundang orang tua Milea. Kau harus membacanya sendiri bila penasaran :D

Pernah juga Dilan dengan “nekat” mengikuti Milea naik angkot saat pulang sekolah. Saat di angkot, Dilan berkata “Milea, kamu cantik. Tapi, aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalo sore.” Dan saat itu Milea hanya diam saja, tidak menjawab perkataan Dilan. Namun, sesampainya di rumah, sadar tidak sadar Milea terus memikirkan perkataan Dilan di angkot.

Milea sebenarnya sudah punya pacar di Jakarta, namanya Beni. Hal itu lah yang membuat Milea sering “mengacuhkan” kata hatinya bahwa ia memiliki ketertarikan kepada Dilan. Selain Beni, masih ada Nandan dan kang Adi yang diceritakan sebagai “saingan” Dilan. Nandan adalah teman sekelas Milea, sekaligus ketua murid juga. Sedangkan Kang Adi adalah mahasiswi ITB jurusan teknik yang menjadi pembimbing belajar Milea haha ini hanya modusnya kang Adi aja buat negedeketin Milea.

Gue gak bisa menjelaskan satu-satu “keromantisan” Dilan yang ditunjukkannya kepada Milea hehe takutnya malah jadi spoiler juga (biar kalian juga bisa membaca sendiri bukunya, biar bisa rasain sendiri gimana cengengesan disangka orang gila). Tapi, gue bakal ngasih tahu part-part menarik yang bikin gue masih ngerasa falling in love banget sampe sekarang sampe gue nulis ini

Dilan pernah memberikan hadiah ulang tahun kepada Milea yang bener-bener out of the box banget. Bukan barang mahal, bukan bunga mawar, bukan boneka beruang, apalagi sebongkah berlian. Bukan, bukaaaaan. Tapi, “hanya” sebuah TTS (teka-teki silang) yang cover nya foto wanita jepang yang digambarin kumis dan jenggot di wajahnya, serta ada satu balon kata seperti di dalam komik yang bertuliskan “Milea, ada titipan ucapan ulang tahun, nih, dari Dilan. Panjang umur katanya, dia sayang.” Serta ada selembar kertas yang disisipkan di dalam buku TTS yang berisi

SELAMAT ULANG TAHUN, MILEA.
INI HADIAH UNTUKMU, CUMA TTS.
TAPI SUDAH KUISI SEMUA.
AKU SAYANG KAMU
AKU TIDAK MAU KAMU PUSING
KARENA HARUS MENGISINYA.
DILAN!

Ah, bener-bener so sweet kaaaaaan. Bikin meleleh. Hal yang sangat sederhana, tapi ngena. Hal yang murah, tapi romantis. Coba kamu beli buku TTS sekarang. Paling berapa sih harganya? Gue tebak sih gak akan lebih dari 10.000 tapi….. ah sudahlah, gue udah gak sanggup lagi. Yang pasti gue jatuh cintamu padamu, Dilan!

Belum lagi ketika Milea sakit. Kamu bisa tebak apa yang dilakukan Dilan? Bukan, bukan beliin bubur. Bukan juga jenguk Milea sambil bawa parcel buah. Apalagi cuma ngasih ucapan “Get well soon.”  Tapi, jauh dari itu, Dilan “ngirim” Bi Asih, seorang tukang pijat langganan keluarganya, ke rumah Milea. Ah, betapa Dilan benar-benar memperlakukan Milea sebagai seorang yang sangat istimewa dalam hidupnya.

Meskipun kata orang-orang Dilan adalah anak “geng motor” atau troublemaker, tapi Dilan menurut gue adalah orang yang paling bisa menjaga dan melindungi Milea dengan sangat baik. Gue bisa lihat kecemasan Dilan kepada Milea ketika sekolahnya diserang oleh “geng motor” sekolah lain. Juga ketika Dilan berkelahi dengan Anhar, gara-gara Anhar menampar Milea.

“Milea,jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti besoknya, orang itu akan hilang” – Dilan

Namun siapa sangka, dibalik pandangan sebelah mata orang-orang kepada Dilan, ternyata Dilan adalah orang yang sangaaaat mencintai Bundanya. Bahkan, ia selalu menceritakan semua tentang Milea kepada bundanya. Gue aja kayanya gak sedekat dan gak seleluasa curhat kaya gitu ke nyokap gue hehe Bundanya Dilan juga asyik! Gak heran kalo Milea bisa sangat dekat dengan Bunda. “Terima kasih, Bunda, sudah melahirkan Dilan.” – Milea.

“Kamu tahu caranya supaya aku nangis? Gampang. Menghilanglah kamu di bumi” – Dilan

“Jangan rindu. Berat. Kau gak akan kuat. Biar aku saja.” – Dilan

“Malam ini, kalau mau tidur, jangan ingat aku, ya! Tapi kalau mau, silakan.” – Dilan

Ini ada puisi juga yang ditulis Dilan untuk Milea. Sssst, jangan sampai Dilan tau ya. Milea diam-diam mencatat puisi ini dari buku yang diberikan Dilan kepada Bunda.

“Milea 1”
Bolehkah aku punya pendapat?
Ini tentang dia yang ada di bumi
Ketika Tuhan menciptakan dirinya
Kukira Dia ada maksud mau pamer
(Dilan, Bandung 1990)

“Milea 2”
Katakan sekarang
Kalau kue kau anggap apa dirimu?
Roti cokelat? Roti keju?
Martabak? Kroket? Bakwan?
Ayolah!
Aku ingin memesannya
Untuk malam ini
Aku mau kamu
(Dilan, Bandung 1990)

Dan di akhir cerita, Dilan dan Milea sama-sama menandatangani sebuah kertas yang ada materainya. Apa isi kertasi itu? Kamu harus baca sendiri novelnya, ya! J

“Masih harus aku nyatain kalau kita pacaran? Apa masih harus aku bilang ke kamu, Lia, aku mencintaimu. Gitu? Kalau Lia mau, aku mau bilang.” – Dilan.

Ayah Pidi bener-bener bisa bikin tokoh Dilan ini dicintai oleh para pembacanya. Wanita mana coba yang gak kesemsem kalo diperlakukan seperti itu? Begitu pula dengan tokoh-tokoh lainnya. Saking serunya novel ini, gue cuma ngehabisin satu hari kurang lah buat ngabisin novel yang tebalnya 330 halaman ini. Buat hitungan gue, ini masuk rekor tercepat loh! Alur ceritanya bikin gue nagih buat terus lanjut baca halamannya satu per satu eh, gak kerasa aja udah sampe halaman terakhir. Highly recommended! Two thumbs up buat ayah! :D

Dilan, kan ku cari di mana dirimu berada
Kan ku cari Dilan-Dilan lain yang hidup di abad ini
Kan ku cari Dilanku sendiri
Bukan Dilanmu, Milea.
Andai aku telah lahir saat itu,
Kan kupastikan bahwa
Aku jatuh cinta padamu, Dilan.

Wednesday, 2 April 2014

Indonesia Bercerita: Tour de East Java (Part 2)

Huaaaa lagi penat banget nih sama UTS, untung besok ujian jam 13.30 haha jadinya sekarang gue mau lanjut cerita nih tentang liburan gue dua-bulan-lalu hihi semoga gak basi J

Batu.

Yeaaaaay, finally kita nyampe juga di Batu! :D Batu ini semacam Puncaknya Bogor atau Lembangnya Bandung lah. Dingin-dingin gimana gitu tempatnya. Di sini kita nginep di homestay gitu deh udah diurusin sama Mas Heru. Tempatnya lumayan enak kok. Dan yang bikin paling enak lagi adalah jarak dari homestay ini deket banget buat ke BNS. Dari luar aja udah keliatan banget lampion-lampion unyu. Yuhuuuuuuu~~

Pas nyampe homestay itu sekitaran maghrib. Terus kita gerak cepet banget deh soalnya mau lanjut ke BNS (Batu Night Spectaculer). Padahal kamar mandinya cuma ada satu, jadi giliran gitu bertujuh haha target jam 20.00 kita udah cus ke sana.

Batu Night Spectaculer. Akhirnya gue ke sini juga. Sepengetahuan gue hasil dari googling sana-sini sih tempatnya bagus banget, dan yang paling terkenal di sini tuh ada taman lampionnya yang unyu ngets buat foto-foto :3 Kalo buat harga tiketnya sendiri gue gak tau, lagi-lagi udah diurusin sama Mas Heru hehe

Dan lagi dan lagi. Udah jauh-jauh ke Batu, gue masih aja ketemu sama anak IPB. Oh My God! :O Sekarang kita ketemu sama rombongan anak ilkom angkatan 47, ada Kak Delly soalnya J Emang jodoh banget deh sama anak IPB -__-

Cuacanya malam itu (ceileh bahasanya) agak gerimis-gerimis romantis gitu lah. Makanya kita memutuskan buat nyoba main wahana 4 dimensi aja (4D) soalnya kan indoor jadi biar gak kehujanan. Tapi gue juga udah agak lupa filmnya tentang apa. Kalo gak salah racing car gitu, tapi entahlah…

Ghina - Gue
Bira - Casel
Vie - Ica
Leli
Ohya, fyi nih. Jadi BNS ini gak cuma ada taman lampion aja, tapi ada berbagai wahana permainan juga. Semacem DUFAN tapi versi minimalis. Daaan setiap naik wahana, kita harus bayar lagi. Harga tiketnya beda-beda. Tapi gue gatau juga sih, kalo ada tiket terusan apa enggak pas di pintu masuk.

Setelah naik wahana 4D, kita lanjut ke wahana… rumah hantu. Yeah! Sok Berani wahaha awalnya kita mau main “berburu hantu” tuh, jadi naik kereta berdua-berdua, terus nanti nembakin hantunya, kaya star wars kali ya. Tapi kata mas-masnya yang jaga itu lebih serem dari rumah hantu biasa. Jadinya kita masuk ke wahana rumah hantu pada umunya aja, itu pun minta dianter sama mas-masnya haha kurang berani apalagi coba kita :p Tapi, sayang kakak Vie gak mau masuk huhu L

Yaaah suasana di dalem rumah hantu sih seperti rumah hantu biasa aja sih, hantunya bohongan gitu, cuma boneka. Jadi yaaa tetep takut sih, tapi biasa aja (?) Yang bikin takut (kaget sih lebih tepatnya) adalah mas-mas yang nganter kita ke dalem. Duh, jadi makan buah simalakama. Mas-masnya jadi jahil gitu lah zzz tapi Alhamdulillah kita bisa keluar dengan selamat.


Next destination, kita naik wahana entah-namanya-apa yang jelas kaya wahana “rajawali” kalo di DUFAN, tapi gak setinggi rajawali. Kebayang kan? Kebayang lah ya. Kesan naik wahana ini apa? Adem. Lumayan bisa merasakan angin malam wahaha udah gak nyambung :p

Kaya gini lah kira-kira wahanaya :)
But unfortunately, hujan semakin besar kakak. Jadi kita ngadem dulu.


Padahal tadinya Casel ngajak naik wahana yang satu ini. Katanya sebagai ganti rugi gara-gara udah maksa dia masuk ke rumah hantu haha untung hujan, jadi gak jadi deh.




Daaaan pas hujan udah mulai gerimis lagi, akhirnya kita main ke taman lampion juga. Yeaaaay! :D Apalagi selain foto-foto dong kita di sini :p






Nice? More picture is coming soon! :p

Saking serunya foto-foto, kita “diusir” secara halus nih sama BNS. Masa lampunya udah pada dimatiin aja -___- ternyata gak kerasa emang udah jam 12 malem juga. Hufffft kok kayanya masih kurang yaaaa :3 yo wis rapopo. Kita harus move on!



Setelah dari BNS, malam masih panjang coy! Sekarang kita diajakin sama Mas Heru makan di Pos Ketan. Lumayan sih emang laper juga :p Tempatnya ada di alun-alun Batu. Banyak anak muda yang nongkrog juga di sini hehe


Awalnya yang kebayang di otak gue pas Mas Heru ngajakin makan ketan, yaaaa ketan bakar selayaknya di Bandung yang pake sambel oncom -__- Eh ternyata, di sini itu ada berbagai rasa loh. Kaya surabi gitu. Ciyeeeee promosi :p

Pas pertama liat menu, kok kayanya agak aneh dan bikin “mual” ya. Masa ada ketan campur duren, ketan campur keju, dan lain sebagainya. Makanya gue sih ngikut aja, jadinya gue pesen ketan susu keju meses kalo gak salah plus minumnya Milo haha inget IMT wooooy! Ohya, kalo harganya sih seinget gue sih terjangkau kok.

Ketan pesenan gue pun sampe dengan selamat di meja dan pas gue cicipin pertama kali… Ah enyaaaaaak nomnomnom :9 Jadi pengen nambah lagi *eh seriusan deh bikin nagih. Dan ternyata kombinasi rasanya (duh bahasanya haha) pas banget! Pokoknya recommended banget deh. Pokoknya lo wajib ke Pos Ketan kalo lagi main di Batu. Wajib!



Sekarang udah sekitar jam 1 dini hari. Udah capek banget sih. Eh Mas Heru masih bercanda aja ngajak kita main di Alun-alun. Aduh nyerah deh mas. Gue mau tidur aja. Daaaan bener aja, sesampainya kita di homestay, semua tewas. Selamat dini hari Batu! Hari esok masih panjang! :D

25 Januari 2014.

Pagi. Saking capeknya, masa kita baru pada bangun jam 6. Astagfirulloh. Pagi ini batu yaaa lumayan bikin brrrr deh hehe dan as always kita lagi pada ngantre kamar mandi nih soalnya kita harus udah check out dan cus lanjut ke Jatim Park 2 yang sebenernya masih di sekitaran Batu juga sih. Tapi kita mau lanjut perjalanan ke Bromo, jadi udah check out hehe

Sekitaran jam 9 pagi udah pada cantik mau main ke Jatim Park 2. Tapi sebelumnya, kita sarapan dulu ya sob! Dan sarapan kali ini disponsori oleh nasi rawon J Ini kedua kalinya gue makan nasi rawon, yang sebenernya secara garis besar sama aja sih kaya nasi rawon waktu gue makan di Kediri. Tapi, ada bedanya. Tapi gue gatau apa :/ Oke skip!

Setelah perut kenyang, here we go. JATIM PARK 2 GUE DATENG!!!!



Wednesday, 5 February 2014

Indonesia Bercerita: Tour de East Java (Part 1)

Liburan kali ini disponsori oleh rasa kegalauan gue ditinggal KKN sama temen-temen gue huhu L Jadinya, ya gue ngajakin temen sekampus gue buat nge-trip bareng lagian dalam rangka liburan “terakhir” juga sih soalnya liburan semester depan, giliran gue yang KKN.

Alhasil, bergabunglah tujuh cewek kece yang mau liburan bareng ceritanya dengan tujuan utamanya ke Bromo dan Pulau Sempu. Setelah pertempuran sengit terutama terkait masalah biaya, akhirnya kami pun memutuskan untuk menggunakan jasa travel. So, kita pun memutuskan untuk cus tanggal 23 Januari 2014.

Oh ya, sebelumnya kenalan dulu nih sama temen-temen gue: Ica, Leli, Casel, Vie, Bira, dan Ghina.
Leli
Ica
Bira
Casel
Ghina
Vie
But, bad news-nya kita dapet sekitar H-2 keberangkatan kalo ternyata jalan ke Pulau Sempu lagi ditutup untuk sementara gitu deh. Jadi kita gak bisa ke sana. Kecewa banget! L But, show must go on. Jadinya perjalanan liburan kita kali ini sedikit mengalami perubahan dengan rute Batu, Malang – Bromo – Pacitan – Jogja. Wish us luck! :D

23 Januari 2014

Cuaca Indonesia masih buruk. Agak sedikit takut sih buat liburan. But, sekali lagi. Show must go on. Hari ini gue akan memulai liburan ini. Gue, Vie, Bira, dan Ghina berangkat dari Dramaga bareng. Sedangkan, Leli dan Casel udah nungguin di Stasiun Bogor.

Kasusnya sama kaya Januari tahun lalu, pas gue mau berangkat ke Kediri. Jakarta kembali banjir. Dan ada beberapa stasiun yang ikutan kena banjir juga. Akhirnya kita memutuskan untuk naik kereta sampai stasiun Juanda aja. Soalnya nanti ada Ica yang bakal jemput kita (katanya) hehe soalnya dia dianterin langsung dari Bekasi. Baru nanti kita barengan lanjut perjalanan ke stasiun Pasar Senen.

Pas naik commuter line, kondisinya udah penuh banget. Kita aja sampe harus naik di gerbong biasa yang campur sama cowok juga. Mana barang bawaan kita banyak bangeeeeetss udah pada bawa carrier macam mau naik gunung hehe kita aja sampe duduk di kursi prioritas (jangan ditiru ya J) terus sampe disindir-sindir pula karena duduk di situ. Tapi ya mau gimana lagi. Saking penuhnya, kita aja sampe bingung mau turunnya gimana -___-

Finally, kita sampe juga tuh di stasiun Juanda. Eh di sini gue ketemu Adel (temen gue di BEM), Citra (temen gue di Komunitas), sama satu orang lagi gue gak tau namanya hehe mereka juga katanya mau liburan tapi ke Jogja. Good luck girls!

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya dateng juga tuh jemputan kita :p alias Ica. Ini bener-bener perjalanan panjang banget deh dari Bogor pagi-pagi banget sekitar jam 7 dan nyampe stasiun Pasar Senen baru sekitar dzuhur. Eh pas di sini juga gue ketemu anak IPB lagi. Fay alias Faisal (Ketua BEM FEMA), Rizka dan Ida (temen gue di BEM), sama satu lagi juga gue gak tau namanya hehe emang dunia ini sempit ya K Katanya sih mereka mau pergi ke Malang juga (ke rumah Rizka) malah kita satu kereta cuma beda gerbong. Mereka di gerbong 5 kalo gue di gerbong 6.

Sekitar jam setengah 2 siang, kita cus ke Malang naik kereta kelas ekonomi Matarmaja. Tapi walaupun ekonomi ternyata tetep aja mahal. Kemarin sih kita beli tiket sekitar 120 ribu. Mungkin gara-gara judulnya ekonomi AC kali ya. Tapi menurut gue sih, kereta ekonomi sekarang udah banyak perubahan juga. Pertama, AC-nya udah mulai kerasa dingin. Kan biasanya cuma judulnya aja yang ada kata “AC” tapi yaaaa gitu deh tetep panas serasa di oven. Dan kedua, colokannya ternyata beneran nyala dan berfungsi dengan baik. Terakhir waktu gue naik kereta ekonomi dari Jogja ke Bandung, gue sempet di PHP-in tuh sama colokan listriknya yang ternyata cuma “pajangan” aja. Makanya, gue sedikit “betah” nih di kereta. Setidaknya selama ada listrik menyala, di situ akan ada gadget yang akan selalu nyala juga buat ngilangin rasa bete tingkat dewa selama di kereta.
Aaaaaand, happy holiday girls! Semua status langsung diganti jadi heading to Malang with… (mention satu-satu) Siapkan tenagamu untuk perjalanan 18 jam ke depan! Bismillah…
Ini sih yang selalu gue suka dari kereta ekonomi. Seru. Rame. Kadang ada suara anak kecil nangis lah. Bapak-bapak ngobrol. Anak muda ketawa-ketiwi. Intinya ada kehangatan di sini. Realita kehidupan sebenarnya (wiiih bahasa gue) Kadang juga ada pedagang-pedagang asongan yang masuk gerbong memeriahkan suasana, mulai dari jual kopi, pop*mie, dan seribu macam kebutuhan lainnya.
Untuk pertama kalinya gue mesen makan di kereta. Nasi rames doang harganya 18 ribu. Isinya ada nasi putih, orek tempe, sambal goreng kentang, telur balado setengah butir, ayam seadanya, sama kerupuk. Tapi ya namanya lagi laper sih ya dimakan juga dan habis juga sih. Tapi setidaknya nasi rames ini masih lebih enak dari pada nasi goreng yang dipesen Casel, mana rasanya hambar banget lagi dengan harga yang sama. Jadi, kalo gue kasih saran sih. Kalo emang lu kepepet banget lagi laper di kereta, lu mending beli nasi rames deh dari pada nasi goreng hehe apaan sih *skip*
Balik lagi ke perjalanan kereta Jakarta – Malang yang lamanya sekitar 18 jam. Lo bisa bayangin gak sih apa aja yang harus gue lakuin di kereta? Mulai dari makan, ngobrol, tidur, bangun, bengong, ngobrol lagi, makan lagi, tidur lagi, dan bangun lagi. Ini kereta rasanya gak nyampe-nyampe. Mana semakin malem ini kereta semakin dingin lagi. Sampe-sampe gue masuk angin dan untuk pertama kalinya juga lah gue nyobain toilet di kereta yang iyuuuuuh banget -____- bersih sih not bad, ada sabun pula. Tapi bau ammoniak-nya itu coy kenceng banget. Berhasil bikin gue tahan nafas sejenak.
Sekitar jam 22.00 WIB, gue bangun tidur. Kata orang sih ini udah nyampe di Semarang Poncol. Tapi kata orang juga ini kereta juga udah berhenti di sini dari sekitar satu jam yang lalu. Gue pikir sih ya kaya biasa aja, si Ekonomi ini harus nunggu para Executive lewat. Tapi biasanya gak selama ini.
Hasil kepo gue menunjukkan bahwa ternyata ada banjir di daerah Semarang Tawang. Akibatnya, ya kereta harus antre maju satu per satu dengan kecepatan 5 km/jam. Itulah sebabnya kenapa kereta gue berhenti dari tadi. Dan terus berhenti sampe subuh pemirsaaaah. Fix kereta ini delay 8 JAM!
Jam 05.30 WIB, kereta gue baru maju lagi melanjutkan perjalanan menuju Malang. Dan emang bener, stasiun Semarang Tawang dan sekitarnya lagi banjir. Rel keretanya aja sampe kerendem air gitu. Jadi, kereta kita jalannya pelaaaaan banget. Tapi Alhamdulillah kita bisa lewat juga.

Ini gue di kereta udah jamuran banget mana laper lagi. Udah lebih dari 18 jam. Masa mau beli mie lagi -___- akhirnya gue ngemil makanan seadanya aja. Ya Alloh, ini cobaan banget deh. Sampe akhirnya pas di Madiun, kita nemu juga tukang nasi pecel. Lumayan lah bisa ganjel perut yang lagi keroncongan.
Malang masih jauh dari pandangan mata. Tapi satu gerbong tiba-tiba heboh pas ada pembagian kue gratis dari pihak KAI. Asyiiiiik Alhamdulillah walaupun gak seberapa tapi tetep disyukuri aja :’)
Saking udah gak-tau-mau-ngapain-lagi-di-dalem-kereta, kita bertujuh udah mati gaya. Sampe hal-hal yang gak penting pun dibahas. Salah satunya yang kena batunya ya gue. Masa gue “diceng-cengin” sama mas tukang pop*mie yang suka ada di kereta. Macem mas-mas pramusaji gitu deh. Gara-gara gini ceritanya:
Kan gue pesen minum air mineral botol ke masnya. Terus masnya bilang, “OK mbak”. Ya udah gue tungguin. Sampe berjam-jam kemudian (lebay sih ini) si masnya gak dateng juga. Suatu ketika, ada tuh tukang asongan yang jual air mineral masuk ke kereta. Terus kata temen gue, “tuh rika beli gih”. Gue dengan maksud baik hati nolak dong dan bilang, “enggak ah kan tadi udah pesen, kasian takut nanti dibawain”. Yo wis lah si tukang asongan itu pun lewat aja. Gak lama kemudian, si mas pop*mie tadi lewat lagi. Gue tegur dong sekalian tanya, “mas mana minum saya?”. Eh si masnya dengan santai bilang, “aduh maaf mbak saya lupa.” Duuuuh gatau apa ini gue udah dehidrasi K Mas pop*mie pun kemudian berlalu. Naaah terus si abang tukang asongan itu lewat lagi. Yaudah tanpa pikir panjang gue langsung beli minum di situ deh. Pas mas pop*mie lewat lagi, dia nanya tuh dengan muka sok polosnya “udah beli kan mbak minumnya tadi?”. Ya udah gue jawab “udah” dong. Eh taunya malah gue “diceng-cengin” sama anak-anak dibilang gue di PHP-in sama mas pop*mie zzz bete banget gak sih?
Makin ke sini, makin banyak tukang jualan yang masuk ke gerbong. Yang gue gak paham, ternyata ada “motif” baru buat nyari uang di kereta. Bukan jualan/dagang, bukan juga ngamen. Tapi jadi tukang bersih-bersih gitu. Kan awalnya gue kira dia emang petugas kereta tuh yang emang tugasnya nyapu gerbong, ngambilin sampah gitu-gitu. Tapi ternyata pas udah beres, eh dia malah minta “sumbangan” gitu ke penumpang kereta. Bagus sih. Tapi yang gue gak suka itu, caranya yang agak maksa. Jadi dia itu gak mau pergi kalo belum dikasih uang. Hmmm emang ada-ada aja ya cerita dari Si Ekonomi. Mana makin ke sini juga kelakuan penumpangnya makin absurd lagi. Masa ada orang yang ngedengerin lagu india gitu kenceng banget sampe kedengeran ke satu gerbong dan dia dengan percaya dirinya nyanyi juga zzz tapi ya kalo gue mah bawa enjoy aja sih.
Duuuuh gue udah gak tau mau cerita apa lagi. Stuck in the moment banget nih.
Pemandangan dalam kereta
(Masih) Pemandangan dalam kereta
Suasana di luar kereta pas lagi berhenti di salah satu stasiun

24 Januari 2014
Pukul 17.00 alias jam 5 sore kita AKHIRNYA NYAMPE JUGA DI STASIUN MALANG KOTA BARU. Thanks God. Bener-bener seharian lebih deh di dalem kereta. Badan udah lepek. Pegel juga iya (you know lah kursi di kereta ekonomi gimana). Pokoknya muka kita semua udah lusuh dan gembel banget. Mana bawa tas yang super gede banget lagi. Huuuuftttt. Oh ya, karena kita pake jasa travel. Alhamdulillah nya kita udah dijemput nih di stasiun. Jadi kita gak perlu cape-cape lagi cari kendaraan, penginapan, lalala~
Well, kenalin nih nama guide kita selama di kota Malang dan Bromo. Namanya mas Heru. Orangnya tinggi. Agak item, manis gak ya? Haha iya aja deh kasian :p Nah tujuan pertama kita sekarang nih ke Masjid Agung Malang soalnya kita pada belum shalat Ashar.
Dan you know what? Masa udah jauh-jauh ke Jawa Timur gue masih ketemu aja sama anak IPB, anak gizi pula zzz Ya, kita ketemu sama OPEKERS ada Rahma, Nisya (Bumil), sama Ica (Riza) haha beneran deh dunia itu sempit ngets! Dan mereka juga katanya mau ngelanjut perjalanan ke Batu (rumah sodara Nisya katanya). Eh tapi pas kita udah beres shalat, mereka bertiga udah pada ngilang aja. Padahal tadi ngajakin bareng .__.
Naaah, sebelum ke penginapan. Kita diajakin makan dulu nih sama mas Heru. Gue gak tau nama tempat makannya apa dan di mana. Mas Heru sih cuma bilang nama tempatnya itu “Mie Setan”. Sesuai namanya, yang pasti menu utamanya di sini tuh mie. Tapi yang bikin menariknya itu si Mie nya ini pedes banget ada level-levelnya gitu. Gue sih cuma berani nyobain yang level 1 (15 cabe rawit). Kalo si Ghina, kita tantangin buat nyobain yang level 2 (25 cabe rawit). Secara kan dia orang Padang, jadi harus berani lah makan pedes HAHA *ketawa jahat* Tapi, buat lo yang sama sekali gak kuat makan pedes, di sini juga ada kok yang namanya “Mie Angel”. Overall, makanan di sini enak lah menurut gue. Selain mie, dikasih juga pelengkapnya kaya pangsit, siomay, dan smoked beef. Hmmmm recommended deh. Cuma gegara pedes banget, gue jadi gak bisa nikmatin makan mie nya. Karena ya gue juga udah riweuh sendiri :p
Kalo minumnya, kita dipesenin sama mas Heru ada 2 macem sih. Yang satu namanya es pocong dan satu lagi es kuntilanak. Jujur sih gue sendiri gak ngerti ya kenapa dinamainnya macem gitu. Kalo gue sendiri minumnya es kuntilanak. Lumayan enak sih, seger juga karena ada buah stroberi. Lumayan bisa lah ngilangin rasa pedes di mulut.
Kalo buat suasananya sendiri menurut gue cukup nyaman dan cozy lah. Pantes aja sih tempat ini penuh banget sama anak muda Malang. Hampir semua pegawainya yang gue liat sih anak muda juga. Pake baju item-item gitu. Oh ya, gue baru inget. Kan perkembangan musik underground di Malang juga cukup besar. Pantes dari tadi lagu yang diputerin juga macem lagu-lagunya burgerkill gitu hehe
Kalo buat harganya, lo jangan tanya gue deh. Mending lo tanya mas Heru aja soalnya itu udah include dari biaya travelnya hehe
Mie setan level 1
Es kuntilanak
Gue bareng 'lele' Leli (mukanya udah kucel :p)
So, setelah puas makan dan foto-foto perjalanan kita pun dilanjutkan untuk menuju ke penginapan di Batu. Yeaaaah! Welcome to Batu, everybody! :D