Thursday, 15 October 2015

Kulineria: Picnic A la Local Taste

Welcome to Local Taste

Siapa yang gak suka makan enak di sini? Pasti semuanya suka dong, termasuk gue. Buat lo yang ngaku “pemburu” makan enak wajib banget dateng ke acara satu ini. LocalTaste.co.id Picnic Over Tribeca is coming back! Yeay! :D

Udah sekitar satu tahun terakhir ini gue emang suka banget berburu kuliner di acara bazaar atau festival kuliner semacam ini. Kenapa? Karena semua makanan enak ada di situ semua, di satu tempat, dan kita sebagai pengunjung cuma tinggal pilih aja mau makan yang mana. In addition, mostly, pengisi booth (tenant) yang ngisi di bazaar ini menyajikan makanan yang selain rasanya enak juga unik-unik banget.

Berbeda seperti bazaar kuliner yang pernah gue datengin, seperti Passport, Market & Museum, dan Tastemarket, LocalTaste.co.id ini menyajikan tema yang lebih asik. Kita diajak buat kulineran sambil ala ala piknik di taman. Makan di bawah pohon rindang sambil duduk-duduk pakai tikar. Suasananya juga adeeeem. Lu gak perlu bawa-bawa tikar lagi karena udah disediain. Tapi, kalo mau bawa sendiri juga monggo biar gak “rebutan” sama pengunjung lain.



Kali ini adalah gelaran ketiga LocalTaste.co.id Picnic Over Tribeca diadakan di Tribeca Park, Central Park Mall, Jakarta. Ada lebih dari 45 tenant yang ngisi di area seluas 500 m2 ini. Ada banyak banget makanan yang bikin ngiler pas kita nyampe sana. At the first sight, gue ngenilai kalo tata letak booth antar tenant di sini cukup rapi dibandingin sama bazaar kuliner lainnya. Dan gak terlalu sumpek juga liatnya. Mungkin karena tempatnya outdoor, pengisi tenant-nya juga gak begitu banyak, dan pas gue ke sana pun belum terlalu banyak orang. Jadi, asik aja sih menurut gue. Kalo mau beli makanan, gak perlu antri-antri dulu.



Makanan pertama yang gue coba adalah nasi dendeng balado “Takana Juo”. Harganya 45 ribu per porsi udah pake nasi. Nasi dendeng balado khas Padang ini emang lagi ngehits banget di kalangan kawula muda (ceilah). Banyak banget juga yang udah ngembangin resep nasi dendeng balado ini dengan berbagai brand. Cukup bagus sih kalo kata gue, karena kan ini salah satu cara juga buat “melestarikan” resep tradisi leluhur di tengah gempuran makanan western yang sering dianggap lebih keren. Thumbs up! :D


Back to nasi dendeng balado “Takana Juo”. Menurut gue, rasa dendeng balado di sini enak kok. Gak begitu jauh sama dendeng balado yang pernah gue cobain sebelumnya. Di sini, nasi dendengnya ada yang pedas, sangat pedas, dan tidak pedas. Kalo dari segi harga sih memang agak lebih mahal ya dari nasi dendeng balado lainnya yang gue tahu. “Takana Juo” juga menjual dendeng balado kiloan, loh. Jadi, bisa di bawa pulang buat oleh-oleh keluarga.

“Mulan by Yamm Ke Ko”. Ini semacam rice bowl gitu sih. Ada 3 menu besarnya yang ditawarkan Mulan, yaitu mulan chicken (35 ribu), mulan chicken plus nasi hainam (45 ribu), dan Nasi MiMo Omumu (50 ribu). Mulan chicken itu sih gampangnya gue bilang kaya ayam fillet, dipotong kecil-kecil seukuran dadu, terus dikasih tepung terigu, digoreng aja. Rasa Mulan chicken juga ada 3, yaitu Kung Fu Chicken (manis pedas), Anti Vampire Chicken (garlic mayo), dan Bang-Bang Chicken (asin pedas).  

Gue sendiri kemarin beli yang nasi MiMo Omumu. Isinya ada nasi Hainam, omelette, MiMo eggs, dan Mulan chicken. Buat Mulan chicken-nya gue pilih yang Kung Fu Chicken. Over all, rasanya enak. Paket komplit kalo kata gue. Proteinnya banyak haha udah ada telur dadar (re: omelette) ditambah telur rebus, ditambah lagi ayam. Lumayan bikin kenyang. Yang bikin unik lagi si “MiMo” nya ini – telur rebus dibagi 2 terus dihias kaya ayam-ayaman. Lucu deh. Tapi sayangya, pas gue ke sana agak lama juga penyajiannya padahal booth lagi gak begitu rame. Kelamaan ngehias MiMo :p

Minumnya gue beli di “Bank of Blood”. Minuman yang juga lagi hits banget nih. Emang udah macem-macem aja sih zaman sekarang. Jadi, di Blank of Blood ini minumannya (susu) dikemas di tempat yang mirip banget kaya kantong darah. Seakan-akan kita lagi minum darah kita sendiri. Gue pribadi sih emang agak “jijik” juga liatnya, apalagi kalo yang warna merah darah banget. Tapi, tenang aja kok ada 7 varian rasa yang bisa lu pilih, mulai dari Human Blood, Ted Blood, Olaf Blood, Minion Blood, Hulk Blood, Smurf Blood, dan Alien Blood. Harganya 35 ribu per kantong darah. So, tunggu apalagi? Selamat menghisap “darah” dan welcome to vampire club!


Ada juga nih yang unik dari tenant minuman. Bukan minumannya yang aneh sih, tapi cara minumnya. Pernah kepikiran buat minum pake sedotan yang stylish banget? “Riche” punya jawabannya. “Riche” adalah pioneer of the eyeglasses straw. Jadi, lu minum pake sedotan yang bentuknya kaca mata. Ada 6 rasa yang bisa lu pilih; chocoreo, taro, coffecino, lychee yakult, red velvet, dan green tea. Harganya 35 ribu per botol, udah free eyeglasses straw yang bisa dibawa pulang J Soooo unique, right? Dan gue jamin, pas lu minum “Riche”, semua mata akan tertuju padamu.


Ini temen gue (Putos) lagi minum "Riche"

Terakhir, buat snack nya gue beli “Chickville”, semacam chicken pop gitu sama kaya Mulan chicken. Tapi, kalo di sini makannya gak pake nasi. Jadi, cocok buat sekedar nyemal-nyemil unyu. Selain ayam, di “Chickville” ini juga ada cumi (calamary pop) dan ikan dori (dory pop). Bisa loh kalo belinya dicampur. Buat seasoning-nya juga bisa pilih, mau BBQ, rumput laut, pizza, keju, balado, atau pedas. Mix juga boleh. Mau tambah mayonnaise juga boleh banget. Pokoknya sesuai selera deh. Harganya 35-45 ribu untuk ukuran standar, dan 50-65 ribu untuk ukuran besar. Dijamin enak dan bikin nagih! This is my favorite snack ever! :D


Sebenernya masih banyak banget makanan yang pengen gue coba, tapi apalah daya kapasitas perut dan kantong yang terbatas gue cuma nyoba segitu. Sebagai tambahan, gue saranin lu buat bawa air mineral dari rumah, soalnya di sini jarang banget yang jual dan kalo pun ada harganya bisa mahal (gak mau rugi :p).

So, biar gak penasaran dan pengen tau makanan unik lainnya, lu mesti banget dateng ke sini, acaranya sampe tanggal 18 Oktober 2015. Cus, berangkat sekarang! :D For further information please follow @localtasteid on instagram. Inget, jangan buang sampahnya sembarangan yaaa. Happy picnic! J

Wednesday, 14 October 2015

Review Novel: 'ELEGI' Karya Sastra Tingkat Tinggi Penuh Kejutan

Cover depan novel (photo by me)

Sebenernya ini novel udah lama banget gue beli, sekitar 2 atau 3 tahun lalu. Tapi karena waktu itu gue lagi sibuk-sibuknya kuliah (ceilah sombong :p) makanya gue belum tamat bacanya. Dan berhubung sekarang gue lagi jadi pengangguran, makanya gue mencari kesibukan, dan salah satunya adalah membaca novel yang tak kunjung usai gue baca ini haha

Novel ini cukup spesial buat gue pribadi karena penulis novelnya adalah temen gue sendiri. Ini true story. Temen SMA gue, sekelas waktu kelas X (1 SMA), namanya Auliya Millatina Fajwah – yang emang dari zaman SMA setahu gue udah jago banget nulis. Buktinya waktu SMA aja, Aul ini (panggilan akrab gue) sering menjuarai tulis cerpen lah atau kalo enggak artikelnya sering banget dimuat di koran atau majalah.

But, biar agak keren sedikit, gue sebut Aul dengan “nama pena”-nya Millatina ya hehe. Judul novel ini adalah Elegi: Ketika Kesakitan Ditolak Kehadirannya. Beuh, berat banget kan baca judulnya aja? Bahkan gue sendiri gak ngerti apa makna dari kata ‘Elegi’. Akhirnya, gue carilah di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan munculah arti kata ‘Elegi’ seperti di bawah ini

ele·gi /élégi/ n syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita (khususnya pada peristiwa kematian)

Bahkan, setelah gue baca arti kata ‘Elegi’ berdasarkan KBBI pun, gue masih belum ngerti banget apa dari kata ‘Elegi’ sebenarnya haha payah banget emang gue L

Sisi pandang objektif gue menilai kalo novel ini bagus, lebih dari bagus. Millatina mampu menyuguhkan novel dengan padanan kata yang cantik dan sangat intelektual. Meskipun, menurut gue pribadi sih cukup rumit karena bener-bener sastra tingkat tinggi banget deh. Contohnya seperti yang tertuang pada bagian Prolog ini (ini baru bagian prolog loh, masih pembukaan awal)

Tidak selamanya langit membentang dengan panorama biru muda yang indah, terkadang berubah kelabu, seperti ingin melepaskan kesakitan bersama air hujan. Tidak selamanya burung-burung berkicau dengan riang, terkadang hanya diam dan mengepakkan sayap membelah langit bersama ketenangan.

Gimana sedap kan? Kalo menurut lu itu hal biasa, bagi gue itu padanan kata-kata yang sangat indah. Tapi, gue emang perlu mikir dulu bacanya haha efek kebanyakan baca novel-novel teenlit :p Gue bahkan kadang harus membaca satu bagian tertentu berulang-ulang agar memahami maksudnya. Mungkin karena selera sastra gue yang terlalu rendah haha

Ada lagi yang seperti ini…

Pertemuan pertama memang tidak selalu menghadirkan cakrawala keindahan yang sempurna, tidak pula menawarkan dongeng yang indah. Terkadang justru terasa begitu rumit, seakan ingin menolaknya.

Siang diciptakan bukan untuk mengejar malam, namun sore selalu hadir dan menghubungkan keduanya.

Millatina juga banyak menyematkan istilah-istilah mitologi Yunani sebagai pengandaian di dalam novelnya, seperti Dewa Zeus, Dewi Artemis, Dewa Apollo, Dewa Dionisos, Dewi Hera, dsb – yang gue gak ngerti itu siapa. Meskipun di beberapa bagian Millatina menjelaskannya dan di beberapa bagian lainnya tidak.

Langit biru terhampar luas hingga ujung khatulistiwa dengan serat-serat awan tipis. Dedaunan seolah melambai dan menari tertiup angin. Burung-burung gereja berkicau saling menyahut satu sama lain. Dewa Aether membentuk atmosfer sempurna, hingga Dewi Gaia membiarkan bumi dalam poros sempurna.

Terkadang Millatina juga mengutip “petikan-petikan” dari orang terkenal seperti yang tertulis pada bagian ini

Untuk kali pertama ia merasa jatuh cinta, yang kemudian segera berubah menjadi amor platonicus, seperti yang ditemukan dalam naskah Symposium karya Plato, sebuah cinta yang tak tersentuh, bersebelahan namun bukan untuk berdampingan.

Gue mengagumi “kelancaran” Millatina dalam menceritakan setting tempat pada novel ini yang begitu nyata. Di dalam novel Elegi ini, Millatina mengangkat 3 tempat, yaitu Bourgogne (Perancis), Bandung (Indonesia), dan Tokyo (Jepang). Millatina mampu menceritakan setiap detail dari ketiga tempat tersebut seakan-akan ia memang tahu betul ketiga tempat tersebut. Dan gue sebagai pembaca, seakan dibawa masuk bersama ke dalam tiga tempat tersebut. Good job!

Novel ini memiliki 3 tokoh utama yang menjadi peranan penting, yaitu Dylan, Reyka, dan Sara. Dylan McFadden adalah seorang yang membenci anggur, orang tua, dan hidupnya.  Ia memiliki masa lalu yang sulit yang membentuk sikapnya menjadi seperti ini saat ia telah dewasa. Reyka Afabel, merasa dirinya seperti sebuah manekin. Ia pun memiliki masa lalu yang cukup sulit seperti Dylan meskipun dengan kasus yang berbeda. Kedua orang ini sama-sama menyukai seorang wanita cantik yang bernama Sara Visella.

Cerita novel ini sangat apik, konfliknya pas, dan penuh kejutan. Kadang, ketika gue telah menyimpulkan tentang A, kemudian ditentang pada bab berikutnya sehingga kesimpulan gue berubah menjadi B. Dan seteleh gue membaca bab berikutnya, kesimpulan gue berubah lagi menjadi C. Penuh teka-teki memang. Di sini, pembaca dituntut untuk “berpikir” juga ketika membacanya.

Millatina berhasil membuat sebuah novel yang tidak sekedar menceritakan “drama” mengenai perebutan seorang wanita oleh dua orang pria. Dalam novel ini pun tidak hanya bercerita mengenai kisah kasih, tetapi juga bagaimana Dylan mengatasi kebenciannya terhadap orang tuanya. Dan bagaimana Reyka “berdamai” dengan masa lalunya. Dan jika kau ingin tahu bagaimana akhir cerita novel ini, siapa yang akan mendapatkan hatinya Sara, kau harus membaca sendiri novel ini! :D

Ada beberapa bagian quotes yang gue suka dari novel ini, seperti…

“Kau tahu, kadang-kadang dalam hidup ini seseorang tidak diberikan pilihan, ia harus mengikuti suatu jalan yang sebenarnya tidak ingin dilalui, dan kau baru tahu bahwa jalan itu salah ketika kau sudah melaluinya.”

“Kalian tahu, hidup itu tidak sesederhana yang kau bayangkan. Ketika ada kesulitan, Tuhan pasti telah menciptakan kemudahan.” – ucap Bu Rena kepada Sara dan Rion.

Point negative yang gue dapet dari novel yang tebelnya 154 halaman ini adalah terlalu banyaknya narasi yang gak to-the-point (seperti yang udah gue singgung di atas). Memang, itu menunjukkan betapa Millatina memiliki kosa kata yang lebih dari “kaya”. Hanya saja – kembali lagi ke gue sang penggemar novel teenlit – hal itu bikin gue kadang “ngantuk” di tengah jalan. Mungkin jika ditambah dengan lebih banyak dialog atau ilustrasi yang mendukung, hasilnya pasti akan jauh lebih baik lagi.

But, overall gue ngerasa bangga banget punya temen yang udah ngeluarin novel pertamanya dengan cukup baik dan ajaib! J

So, buat lu yang memiliki jiwa sastra tinggi, novel ‘Elegi’ ini gue rekomedasiin buat lu. Atau kalo pun lu selemah gue dalam hal satra, gak ada salahnya buat lu baca novel ini :D

Wednesday, 7 October 2015

Review Novel: Aku Jatuh Cinta pada Dilanmu, Milea!


Mungkin gue termasuk orang yang telat tau tentang novel ini. Berawal dari melihatnya banyaknya temen gue yang ngomogin novel ini sekaligus merekomendasikannya, akhirnya gue pun tertarik untuk membeli buku ini.

Dilan Dia adalah Dilanku Tahun 1990 adalah salah satu novel karya Pidi Baiq (@pidibaiq) biasa orang-orang memanggilnya dengan sebutan “ayah” atau “surayah”. Jujur, sebagai warga Bandung, gue udah gak asing lagi mendengar namanya. Yang gue tau, ayah itu adalah anggota salah satu band bernama The PanasDalam, yang (sebenernya) gue pun gak tau lagunya seperti apa. Hanya saja gue tau salah satu lirik lagunya yang berjudul Dan Bandung, sedikit potongan liriknya seperti ini

“dan Bandung bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi.”

Novel ini menceritakan hal yang kllise sih kalo kata gue, kisah cinta anak SMA si cantik dan si keren. Ah, udah biasa banget kan? Tapi, ayah dengan ciamik mampu membuat novel ini menjadi sangat luar biasa dan mampu menyihir para pembacanya dengan suguhan kata yang bener-bener sederhana tapi ajaib. Aneh kan?

Setting novel ini adalah Kota Bandung di tahun 1990. Bandung yang sangat jauh berbeda dari saat ini. Bandung yang belum pernah gue lihat sebelumnya karena gue belum lahir pada tahun itu. Dan lagi-lagi, ayah mampu menggambarkan keindahan Kota Bandung saat itu dengan sangat baik.

Milea, gadis cantik pindahan dari Jakarta. Anak seorang TNI, ibunya mantan vokalis band. Tentu yang namanya “gadis cantik” pasti banyak laki-laki yang suka, salah satunya adalah Dilan. Pria yang katanya anak “geng motor” ini siapa sangka ternyata menyimpan banyak “keromantisan” dalam memikat hati Milea.

Dari awal perkenalan dengan Milea, Dilan melakukan cara yang tak biasa. Dilan berpura-pura menjadi seorang peramal. Hingga ada di suatu bagian, Dilan datang ke rumah Milea untuk memberikan surat undangan. Kau tau apa isinya? Undangan ke sekolah! Semua nama hari dan tanggal disertai di surat undangan itu, lengkap dengan nama kepala sekolah dan turut mengundang orang tua Milea. Kau harus membacanya sendiri bila penasaran :D

Pernah juga Dilan dengan “nekat” mengikuti Milea naik angkot saat pulang sekolah. Saat di angkot, Dilan berkata “Milea, kamu cantik. Tapi, aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalo sore.” Dan saat itu Milea hanya diam saja, tidak menjawab perkataan Dilan. Namun, sesampainya di rumah, sadar tidak sadar Milea terus memikirkan perkataan Dilan di angkot.

Milea sebenarnya sudah punya pacar di Jakarta, namanya Beni. Hal itu lah yang membuat Milea sering “mengacuhkan” kata hatinya bahwa ia memiliki ketertarikan kepada Dilan. Selain Beni, masih ada Nandan dan kang Adi yang diceritakan sebagai “saingan” Dilan. Nandan adalah teman sekelas Milea, sekaligus ketua murid juga. Sedangkan Kang Adi adalah mahasiswi ITB jurusan teknik yang menjadi pembimbing belajar Milea haha ini hanya modusnya kang Adi aja buat negedeketin Milea.

Gue gak bisa menjelaskan satu-satu “keromantisan” Dilan yang ditunjukkannya kepada Milea hehe takutnya malah jadi spoiler juga (biar kalian juga bisa membaca sendiri bukunya, biar bisa rasain sendiri gimana cengengesan disangka orang gila). Tapi, gue bakal ngasih tahu part-part menarik yang bikin gue masih ngerasa falling in love banget sampe sekarang sampe gue nulis ini

Dilan pernah memberikan hadiah ulang tahun kepada Milea yang bener-bener out of the box banget. Bukan barang mahal, bukan bunga mawar, bukan boneka beruang, apalagi sebongkah berlian. Bukan, bukaaaaan. Tapi, “hanya” sebuah TTS (teka-teki silang) yang cover nya foto wanita jepang yang digambarin kumis dan jenggot di wajahnya, serta ada satu balon kata seperti di dalam komik yang bertuliskan “Milea, ada titipan ucapan ulang tahun, nih, dari Dilan. Panjang umur katanya, dia sayang.” Serta ada selembar kertas yang disisipkan di dalam buku TTS yang berisi

SELAMAT ULANG TAHUN, MILEA.
INI HADIAH UNTUKMU, CUMA TTS.
TAPI SUDAH KUISI SEMUA.
AKU SAYANG KAMU
AKU TIDAK MAU KAMU PUSING
KARENA HARUS MENGISINYA.
DILAN!

Ah, bener-bener so sweet kaaaaaan. Bikin meleleh. Hal yang sangat sederhana, tapi ngena. Hal yang murah, tapi romantis. Coba kamu beli buku TTS sekarang. Paling berapa sih harganya? Gue tebak sih gak akan lebih dari 10.000 tapi….. ah sudahlah, gue udah gak sanggup lagi. Yang pasti gue jatuh cintamu padamu, Dilan!

Belum lagi ketika Milea sakit. Kamu bisa tebak apa yang dilakukan Dilan? Bukan, bukan beliin bubur. Bukan juga jenguk Milea sambil bawa parcel buah. Apalagi cuma ngasih ucapan “Get well soon.”  Tapi, jauh dari itu, Dilan “ngirim” Bi Asih, seorang tukang pijat langganan keluarganya, ke rumah Milea. Ah, betapa Dilan benar-benar memperlakukan Milea sebagai seorang yang sangat istimewa dalam hidupnya.

Meskipun kata orang-orang Dilan adalah anak “geng motor” atau troublemaker, tapi Dilan menurut gue adalah orang yang paling bisa menjaga dan melindungi Milea dengan sangat baik. Gue bisa lihat kecemasan Dilan kepada Milea ketika sekolahnya diserang oleh “geng motor” sekolah lain. Juga ketika Dilan berkelahi dengan Anhar, gara-gara Anhar menampar Milea.

“Milea,jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti besoknya, orang itu akan hilang” – Dilan

Namun siapa sangka, dibalik pandangan sebelah mata orang-orang kepada Dilan, ternyata Dilan adalah orang yang sangaaaat mencintai Bundanya. Bahkan, ia selalu menceritakan semua tentang Milea kepada bundanya. Gue aja kayanya gak sedekat dan gak seleluasa curhat kaya gitu ke nyokap gue hehe Bundanya Dilan juga asyik! Gak heran kalo Milea bisa sangat dekat dengan Bunda. “Terima kasih, Bunda, sudah melahirkan Dilan.” – Milea.

“Kamu tahu caranya supaya aku nangis? Gampang. Menghilanglah kamu di bumi” – Dilan

“Jangan rindu. Berat. Kau gak akan kuat. Biar aku saja.” – Dilan

“Malam ini, kalau mau tidur, jangan ingat aku, ya! Tapi kalau mau, silakan.” – Dilan

Ini ada puisi juga yang ditulis Dilan untuk Milea. Sssst, jangan sampai Dilan tau ya. Milea diam-diam mencatat puisi ini dari buku yang diberikan Dilan kepada Bunda.

“Milea 1”
Bolehkah aku punya pendapat?
Ini tentang dia yang ada di bumi
Ketika Tuhan menciptakan dirinya
Kukira Dia ada maksud mau pamer
(Dilan, Bandung 1990)

“Milea 2”
Katakan sekarang
Kalau kue kau anggap apa dirimu?
Roti cokelat? Roti keju?
Martabak? Kroket? Bakwan?
Ayolah!
Aku ingin memesannya
Untuk malam ini
Aku mau kamu
(Dilan, Bandung 1990)

Dan di akhir cerita, Dilan dan Milea sama-sama menandatangani sebuah kertas yang ada materainya. Apa isi kertasi itu? Kamu harus baca sendiri novelnya, ya! J

“Masih harus aku nyatain kalau kita pacaran? Apa masih harus aku bilang ke kamu, Lia, aku mencintaimu. Gitu? Kalau Lia mau, aku mau bilang.” – Dilan.

Ayah Pidi bener-bener bisa bikin tokoh Dilan ini dicintai oleh para pembacanya. Wanita mana coba yang gak kesemsem kalo diperlakukan seperti itu? Begitu pula dengan tokoh-tokoh lainnya. Saking serunya novel ini, gue cuma ngehabisin satu hari kurang lah buat ngabisin novel yang tebalnya 330 halaman ini. Buat hitungan gue, ini masuk rekor tercepat loh! Alur ceritanya bikin gue nagih buat terus lanjut baca halamannya satu per satu eh, gak kerasa aja udah sampe halaman terakhir. Highly recommended! Two thumbs up buat ayah! :D

Dilan, kan ku cari di mana dirimu berada
Kan ku cari Dilan-Dilan lain yang hidup di abad ini
Kan ku cari Dilanku sendiri
Bukan Dilanmu, Milea.
Andai aku telah lahir saat itu,
Kan kupastikan bahwa
Aku jatuh cinta padamu, Dilan.